PANGANDARAN, LingkarJabar – Langkah santai Jeje Wiradinata mendadak terhenti di depan Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pangandaran, Senin pagi, 27 April 2026. Mengenakan kaos olahraga hijau, mantan Bupati Pangandaran dua periode itu mendapati ratusan pengusaha rental All-Terrain Vehicle (ATV) berkumpul dalam suasana tegang. Mereka menuntut kejelasan rencana relokasi yang dinilai sepihak serta tidak selaras dari sisi data.
Situasi yang semula memanas tak berlangsung lama. Jeje, yang kebetulan melintas saat berolahraga, mengambil mikrofon dan berdiri di tengah kerumunan. Ia membuka dialog langsung dengan para pelaku usaha.
Dalam penyampaiannya, Jeje menggunakan bahasa sederhana, menjauh dari gaya birokratis. Ia meminta para pengusaha bersabar sembari menunggu proses sinkronisasi data yang tengah dilakukan pemerintah daerah.
“Saya minta teman-teman sabar. Pemerintah tidak akan menelantarkan. Data sedang disinkronkan, dan teknisnya akan dibahas bersama,” ujar Jeje.
Ia juga menyebut keterlibatannya bersama sejumlah tokoh, seperti Agus Savana dan Abi Sudarwanto, dalam tim supervisi penataan wisata Pangandaran. Menurut dia, proses tersebut bertujuan memastikan kebijakan berjalan tanpa merugikan masyarakat lokal.
“Kewenangan ada di bupati, dan tim teknis sedang bekerja. Jangan sampai muncul miskomunikasi karena isu yang belum jelas,” kata dia.
Ketegangan mulai mereda setelah Jeje menjanjikan pertemuan lanjutan yang melibatkan perwakilan tiap kelompok usaha. Ia menegaskan, penataan kawasan wisata diarahkan untuk kepentingan bersama.
“Intinya cross-check data. Kalau sudah selesai, semua akan diundang,” ujarnya.
Para pengusaha ATV akhirnya membubarkan diri secara tertib. Mereka berharap proses pendataan dilakukan transparan agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial maupun ancaman kehilangan mata pencaharian. (Agus Giantoro)






