PANGANDARAN, LingkarJabar — Objek wisata Citumang di Desa Bojong, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, masih menjadi magnet bagi pencinta wisata alam dan petualangan. Dikenal dengan kejernihan air sungai serta panorama hutan tropis yang menawan, Citumang terus memikat wisatawan, terutama untuk aktivitas body rafting yang menantang.
Berdasarkan data pengelola, jumlah kunjungan wisatawan pada September 2025 mencapai sekitar 3.000 orang. Namun, memasuki Oktober, angka tersebut menurun signifikan menjadi sekitar 1.500 pengunjung.
Supervisor Citumang, Edi Riadi, menjelaskan bahwa penurunan jumlah kunjungan dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang tidak menentu dalam beberapa minggu terakhir. Hujan deras menyebabkan debit air meningkat sehingga aktivitas wisata sempat dibatasi demi keselamatan.
“Kami selalu memantau kondisi air melalui alat pengukur debit. Jika indikator hijau berarti aman, kuning harus lebih hati-hati, dan jika merah, seluruh wahana ditutup. Standar keamanan itu tidak bisa ditawar,” ujar Edi kepada lingkarjabar.com, Sabtu (1/11/2025).
Edi menambahkan, meskipun terjadi penurunan pengunjung, akhir pekan masih menjadi waktu favorit wisatawan untuk datang.
“Setiap Sabtu dan Minggu pengunjung tetap ramai, terutama rombongan keluarga dan komunitas pecinta alam,” tuturnya.
Dari sisi ekonomi, pengelola menargetkan pendapatan harian sebesar Rp5 juta, dengan proyeksi Rp150 juta per bulan dan Rp1,55 miliar per tahun. Namun, dengan rata-rata kunjungan sekitar 100 orang setiap akhir pekan, target tersebut belum sepenuhnya tercapai.
“Kami berharap menjelang akhir tahun jumlah pengunjung kembali meningkat. Cuaca yang bersahabat dan momentum libur panjang biasanya membuat Citumang ramai lagi,” imbuhnya optimistis.
Selain body rafting, Citumang menawarkan berbagai daya tarik lain seperti loncatan setinggi tujuh meter, ayunan “tarzan” di atas air, hingga kolam anak-anak dan terapi ikan bagi pengunjung yang ingin bersantai bersama keluarga.
Untuk meningkatkan kenyamanan wisatawan, pihak pengelola juga berencana menambah fasilitas penunjang, termasuk pembangunan mushola di area wisata.
“Kami ingin fasilitas terus berkembang agar pengunjung bisa berwisata sekaligus beribadah dengan nyaman,” jelas Edi.
Meski sempat mengalami penurunan jumlah wisatawan, pengelola tetap optimistis Citumang akan kembali ramai pada libur Natal dan Tahun Baru 2026. Promosi aktif melalui media sosial dan kerja sama dengan berbagai pelaku wisata terus dilakukan guna menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara.
Dengan keindahan alam yang masih terjaga, udara sejuk khas hutan tropis, serta akses yang semakin mudah dijangkau, Citumang tetap menjadi salah satu ikon wisata unggulan Kabupaten Pangandaran. Pengelola berharap tren kunjungan akan meningkat seiring membaiknya cuaca dan tumbuhnya minat masyarakat terhadap wisata alam terbuka. (Agus Giantoro)






