Wisata  

Jojontor Cinta: Mimpi Warga Menghidupkan Bantaran Sungai Citanduy

Jojontor Cinta: Mimpi Warga Menghidupkan Bantaran Sungai Citanduy. Foto: Johan Wijaya/LJ

BANJAR, LingkarJabar – Di bantaran Sungai Citanduy, Desa Jajawar, Kota Banjar, akhir pekan tak lagi hanya tentang waktu senggang. Di bawah terik matahari, suara cangkul beradu dengan tanah, diselingi tawa dan obrolan ringan warga. Tak ada papan proyek, tak pula alat berat milik kontraktor. Hanya tangan-tangan yang bekerja bersama, perlahan membuka jalan dan tanpa disadari, membuka harapan.

Semula, tak ada yang membayangkan kawasan itu akan dilirik sebagai ruang publik, apalagi wisata alternatif. Bagi Kepala Desa Jajawar, Syamsudin, semuanya berawal dari kegelisahan yang sangat sederhana. yakni soal akses.

Rel kereta api yang membelah wilayah desa sudah lama menjadi batas. Ketika wacana rel ganda muncul, warga di sisi utara mulai khawatir. Akses menuju selatan bisa semakin sulit. Jalan memutar ke Darung Ulum menjadi satu-satunya pilihan, dan itu terasa jauh bagi sebagian warga.

“Dari situ muncul inisiatif warga. Mereka ingin membuka jalur baru di pinggir sungai,” ujar Syamsudin, mengenang awal mula gerakan kecil yang kemudian berkembang.

Setiap Sabtu dan Minggu, kata Syamsudin, warga yang berdatangan ada yang membawa cangkul, ada yang memotong semak, ada yang sekadar membantu mengangkut tanah. Tak semua menyumbang tenaga; sebagian warga memilih iuran, sebagian lagi berdonasi. Dari swadaya itu, mereka bahkan mampu menyewa alat pemadat jalan.

“Pemerintah desa tak berdiri di depan sebagai pelaksana utama. Perannya lebih sebagai pendamping, sebab lahan yang dilalui masih milik BUMN. Namun dukungan moral dan koordinasi terus diberikan, agar gerakan warga tetap berjalan rapi dan aman,” ungkapnya.

Menurut dia. Seiring waktu, jalur tanah yang dibuka tak hanya menjadi akses penghubung. Wajah bantaran sungai perlahan berubah. Pepohonan tetap dipertahankan, sampah dibersihkan, dan ruang terbuka mulai terasa. Di sana, anak-anak berlari, remaja berkumpul, dan orang tua duduk memandang aliran air yang dulu sering diabaikan.

“Perubahan itu memantik gagasan baru. Karang Taruna bersama perangkat lingkungan mulai membayangkan kawasan tersebut sebagai wisata alternatif berbasis lingkungan bukan wisata komersial yang hiruk-pikuk, melainkan ruang publik yang menyatu dengan alam,” katanya.

Bagi mereka, sambung Syamsudin, memanfaatkan bantaran sungai secara positif justru bisa menjadi cara menjaga ekosistem. Sungai tak lagi dipandang sebagai halaman belakang yang kerap diabaikan, melainkan sebagai aset bersama yang harus dirawat.

Meski demikian, pemerintah desa tak ingin tergesa. Rencana pengembangan wisata masih berada di tahap awal. Konsultasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) direncanakan agar setiap langkah tetap sesuai dengan aturan konservasi.

“Kami ingin ada pembinaan untuk pengelola dan masyarakat. Prinsipnya, lingkungan tetap nomor satu,” kata Syamsudin.

Di tengah proses itu, muncul pula usulan nama: “Jojontor Cinta.” Dalam bahasa Sunda, jojontor berarti tanjung—daratan yang menjorok ke sungai. Sementara “Cinta” merujuk pada Citanduy sekaligus jembatan kereta api di sekitarnya. Nama itu masih sebatas usulan, menunggu musyawarah warga untuk disepakati bersama.

Bagi masyarakat Jajawar, bantaran Sungai Citanduy kini lebih dari sekadar jalur baru. Ia menjadi ruang pertemuan, simbol gotong royong, dan tanda bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa lahir dari langkah kecil. Jalan yang mereka buka dengan cangkul dan keringat itu pelan-pelan menjelma menjadi jalan menuju masa depan—yang dibangun bersama, dijaga bersama. (Johan Wijaya)