LingkarJabar – Pagi itu, sebuah kafe kecil di sudut kota menjadi saksi percakapan yang mengendap dalam kepala saya sampai berhari-hari.
Asap kopi mengepul pelan. Di hadapan saya duduk seorang pemuda berusia dua puluh tujuh tahun, Rafi namanya. Matanya redup, tetapi kata-katanya tegas.
“Mas… saya ingin menikah,” katanya lirih. “Tapi hidup sekarang… rasanya seperti menantang langit.”
Saya menatapnya. “Apa yang paling membuat kamu takut?”
Rafi menarik napas panjang. “Biaya hidup, rumah, pekerjaan. Saya takut membangun sesuatu yang tidak bisa saya jaga.”
Di titik itu, saya merasakan luka yang sama, yakni luka yang dirasakan jutaan pemuda lain. Luka yang lahir dari sebuah sistem yang menjadikan masa depan sebagai barang mewah.
Generasi yang Menunda Cinta
Di banyak kota, kisah seperti Rafi bukan lagi pengecualian. Anak muda kini menilai kestabilan ekonomi lebih penting daripada menikah.
Harga kebutuhan terus melonjak. Hunian seakan mimpi yang tak terjangkau. Pekerjaan datang dengan persaingan ketat dan upah yang tak sebanding.
“Marriage is scary,” kata banyak dari mereka, bukan karena takut pada pernikahan itu sendiri, tetapi takut pada apa yang harus mereka tanggung setelahnya.
Suara-suara itu menggema dari artikel berita, penelitian, hingga obrolan warung kopi, bahwa pernikahan bukan lagi tentang kesiapan mental, tetapi kesiapan finansial yang semakin absurd.
Di Mana Negara Ketika Masa Muda Kian Rapuh?
Saya memandangi Rafi yang terus bermain dengan sendok kecil di tangannya. Ada getir yang tak bisa ia sembunyikan.
“Saya bukan tidak mau berjuang, Mas,” katanya pelan. “Tapi rasanya negara hanya melihat kami sebagai angka. Bukan sebagai manusia yang ingin bahagia.”
Saya diam sejenak. Ada kritik, tetapi kritik yang harus disampaikan dengan kejernihan, bukan kemarahan.
Saya akhirnya menjawab, “Rafi, kamu sedang merasakan beban sistem. Ketika biaya hidup naik, ketika pekerjaan tidak stabil, ketika kesejahteraan diserahkan kepada pundak individu, ketakutan itu menjadi wajar.”
Ia mengangguk, matanya berkaca-kaca.
Lebih jauh, saya teringat pendapat para ahli sosial dan ekonomi yang menekankan bahwa tekanan ekonomi global menciptakan generasi yang takut miskin bahkan sebelum memulai sesuatu. Tetapi suara itu sering hilang di tengah hiruk-pikuk politik dan angka pertumbuhan yang dipampang di layar publik.
Akar Luka, Ketika Kapitalisme Membuat Cinta Menjadi Komoditas
Kapitalisme modern membentuk cara pandang baru, bahwa hidup baik harus mahal, bahwa kebahagiaan memerlukan biaya masuk. Maka tidak heran bila generasi muda menggenggam rasa takut lebih kuat daripada harapan.
Sistem ini menciptakan ironi. Pekerjaan tersedia, tetapi tidak cukup memadai. Hunian berdiri megah, tetapi tak terjangkau.
Pendidikan berkembang, tetapi justru menanamkan nilai materialisme dan gaya hidup hedon yang menekan batin anak muda.
“Kalau nanti saya tidak mampu membahagiakan istri saya, bagaimana, Mas?” tanya Rafi.
“Kamu tidak harus membahagiakannya dengan uang yang berlebih,” jawab saya. “Tetapi sistem hari ini memaksamu berpikir begitu.”
Kami sama-sama terdiam. Pernikahan, yang semestinya menjadi ibadah dan ladang cinta, terlihat seperti proyek ekonomi raksasa yang membuat pemuda ciut nyali.
Ketika Islam Menawarkan Jalan yang Lebih Damai
Di tengah kebisingan sistem modern, Islam menawarkan jalan yang lebih menenangkan. Sebuah sistem yang pernah melahirkan peradaban besar karena negara berdiri sebagai pengayom, bukan penonton.
Saya berkata kepada Rafi, “Tahukah kamu, dalam Islam, negara wajib menjamin kebutuhan dasar rakyat? Negara tak boleh menyerahkan energi, air, dan sumber daya kepada swasta atau asing. Semua itu milik umum, dan hasilnya kembali kepada masyarakat.”
Ia mengangkat wajah. Ada kilap harapan di matanya.
Saya melanjutkan, “Allah sudah menegaskan dalam Al-Qur’an, “Dan Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi dan meninggikan sebagian kamu atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.’ (QS. Al-An’am: 165)
Negara dalam Islam memikul amanah ini, yaitu menyejahterakan rakyat, bukan membebani mereka.
Saya menambahkan hadis Rasulullah saw., “Imam (pemimpin) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rafi menatap saya dalam-dalam. “Kalau begitu, Mas… pernikahan tidak harus menakutkan, ya?”
“Tidak, Fi,” jawab saya lembut. “Yang menakutkan adalah ketika sebuah sistem membuatmu merasa sendirian menanggung beban dunia.”
Harapan Itu Harus Kita Selamatkan
Pemuda seperti Rafi bukanlah generasi yang apatis. Mereka hanya terluka. Mereka ingin bahagia. Mereka ingin menikah. Mereka ingin membangun keluarga. Tetapi mereka terhimpit oleh realitas ekonomi yang tidak berpihak.
Kita tak boleh meremehkan luka itu. Kita harus menyuarakannya dengan elegan, dengan hati, dengan cinta kepada negeri ini, agar kebijakan yang lahir bukan hanya mengejar angka, tetapi menyentuh jiwa rakyatnya.
Sebelum kami berpisah, Rafi berkata pelan, “Mas, terima kasih. Saya merasa punya harapan lagi.”
Saya tersenyum. “Harapan itu bukan milik sistem, Fi. Harapan itu milik kamu dan milik kita semua. Dan tugas negara adalah melindungi harapanmu, bukan membuatnya semakin menjauh.”
Lalu kami berjalan keluar dari kafe itu. Pagi terasa hangat. Dan saya yakin, bila kita mau, generasi ini bisa kembali percaya bahwa masa depan, termasuk pernikahan, bukan sesuatu yang menakutkan, melainkan sesuatu yang layak diperjuangkan.
Penulis : Ummu Fahhala, S. Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)






