BANJAR, LingkarJabar – Kondisi darurat menimpa seorang warga Desa Neglasari yang tiba-tiba mengalami kejang saat mengikuti pelayanan administrasi. Karena ambulans tak segera turun, pemerintah desa bersama aparat akhirnya membawa pasien menggunakan mobil pickup agar cepat mendapat pertolongan medis.
Peristiwa ini menjadi perhatian serius dan diharapkan jadi pelajaran penting untuk meningkatkan koordinasi layanan kesehatan darurat.
Warga yang sakit, Dede (65) asal Dusun Cilengkong, Desa Neglasari, tiba-tiba mengalami kejang saat mengikuti pelayanan Disdukcapil di area desa. Pihak desa langsung berinisiatif meminta bantuan ambulans dari Puskesmas Banjar 2 untuk membawa pasien ke rumah sakit.
Namun, menurut Kepala Dusun Cilengkong, Ikbal Machdar Fauzi, permintaan itu tidak langsung dipenuhi dengan alasan keterbatasan sopir dan aturan SOP. Akhirnya, pemerintah desa bersama Bhabinkamtibmas memutuskan membawa pasien menggunakan mobil pickup agar segera mendapat penanganan medis.
“Padahal kondisinya darurat. Mudah-mudahan kejadian ini bisa jadi pelajaran untuk memperbaiki pelayanan ke depan,” ujar Ikbal.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Banjar 2, dr. Devi Utari, menegaskan bahwa penggunaan ambulans memang harus sesuai dengan prosedur yang berlaku, terutama terkait keamanan pasien. Ia menyebut pihaknya bahkan telah mengirim perawat ke lokasi untuk memeriksa kondisi pasien sebelum dirujuk.
“Ambulans tidak bisa dipinjamkan begitu saja tanpa tenaga medis. Setiap rujukan harus ada pemeriksaan terlebih dahulu agar jelas kondisi pasiennya,” jelas dr. Devi.
Meski sempat terjadi perbedaan pandangan antara desa dan pihak Puskesmas, kedua belah pihak berharap insiden ini menjadi momentum evaluasi. Ke depan, koordinasi antara pemerintah desa dan tenaga kesehatan diharapkan semakin baik, sehingga pelayanan darurat kepada masyarakat bisa lebih cepat dan maksimal.






