Berita  

Tak Sekadar Jaga Hutan, IPB Dorong Getah Pinus HPGW Jadi Sumber Ekonomi Bernilai Tinggi

SUKABUMI, Lingkar Jabar — Pengelolaan kawasan hutan yang berkelanjutan tidak hanya berfokus pada kelestarian lingkungan, tetapi juga harus memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat sekitar.

Guna mewujudkan hal tersebut, IPB University menerjunkan tim akademisi melalui Program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) 2026 di kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW), Sukabumi, Jawa Barat.

Program ini berfokus pada penguatan pengelolaan lahan berbasis agroforestri serta edukasi teknik penyadapan getah pinus yang benar, aman bagi kesehatan pohon, dan berdaya saing tinggi di pasaran.

Berdasarkan pendataan terhadap 50 penggarap lahan di kawasan HPGW, praktik agroforestri telah menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi warga. Beragam komoditas berkembang di kawasan ini, mulai dari kopi (dikembangkan oleh 24 penggarap), pisang, kapulaga jawa (kapol), hingga singkong.

Ketua Tim Pelaksana Dospulkam IPB University, Prof. Dr. Ir. Dede Hermawan, M.Sc., menekankan bahwa integrasi antara tanaman kehutanan dan pertanian merupakan kunci utama mewujudkan kemandirian pangan serta ekonomi warga lokal.

“Agroforestri bukan hanya mengenai tanaman yang tumbuh di lahan, tetapi juga mengenai bagaimana hutan dapat memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat tanpa mengabaikan fungsi ekologisnya,” tegas Prof. Dede Hermawan.

Edukasi Penyadapan Pinus: Pohon Tetap Sehat, Getah Lebih Bersih dan Laku di Pasar

Selain agroforestri, potensi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) berupa getah pinus menjadi tumpuan bagi sedikitnya 30 warga sekitar HPGW. Namun, keberlanjutan produksi getah sangat bergantung pada metode dan teknik penyadapan yang digunakan oleh petani.

Dalam program Dospulkam ini, para dosen IPB University memberikan edukasi dan pendampingan teknis agar para penyadap menggunakan teknik luka sadap yang terukur dan ramah lingkungan.

Penyadapan yang sesuai standar teknis terbukti menjaga kesehatan tegakan pohon pinus agar tidak cepat rusak atau lapuk, sekaligus menghasilkan getah dengan kadar pengotor yang minim.

Narasumber tim IPB, Dr. Ir. Gunawan Santosa, MS, menjelaskan bahwa kualitas getah sangat menentukan harga dan daya serap pasar di industri pascapanen.

“Penyadapan getah pinus tidak bisa dilakukan sembarangan. Melalui teknik penyadapan yang tepat dan ramah lingkungan, pohon pinus tetap sehat dan dapat diproduksi secara berkelanjutan. Yang tidak kalah penting, getah yang dihasilkan jauh lebih bersih dan berkualitas tinggi, sehingga nilainya meningkat dan sangat laku di pasaran,” papar Dr. Gunawan Santosa.

Ia menambahkan, diversifikasi usaha—antara agroforestri dan penyadapan pinus berkualitas—akan memastikan masyarakat tidak bergantung pada satu sumber pendapatan saja.

Pendampingan Berkelanjutan dan Penguatan Akses Pasar

Berdasarkan hasil pendataan dan penyaluran aspirasi penggarap di lapangan, masyarakat mengharapkan adanya dukungan berkelanjutan, mulai dari penyediaan bibit unggul, pupuk, pelatihan pascapanen, hingga kemudahan akses pasar dan penguatan kelembagaan.

Anggota tim peneliti IPB, Irsya Mutjia Muthmainah, S.Hut., M.Si., menegaskan komitmen HPGW untuk terus mendampingi warga penyadap dan petani penggarap secara konsisten.

“HPGW berkomitmen untuk terus mengembangkan kolaborasi dengan masyarakat sekitar. Melalui pendampingan dan pelatihan teknis penyadapan serta pengolahan hasil komoditas, kami menjadikan HPGW sebagai ruang pembelajaran bersama. Harapannya, kualitas produk lokal warga makin meningkat dan bernilai tambah tinggi dengan tetap menjaga kelestarian hutan,” tutur Irsya Mutjia.

Sebagai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) yang dikelola oleh Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University, HPGW terus memantapkan perannya sebagai kawasan yang lestari, produktif, edukatif, serta menjadi penggerak kesejahteraan masyarakat sekitar.