Berita  

Perjuangan Petani Pandan di Pangandaran Demi Bertahan di Tengah Tantangan

Yusup yang ditemani sang ayah sedang membersihkan duri di daun pandan. Foto:ist/LJ

PANGANDARAN, LingkarJabar – Setiap pagi, ketika matahari mulai menyinari kebun, Yusup (38) sudah bersiap dengan sabit dan keranjang di punggungnya. Petani asal Desa Legokjawa, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran ini telah menggeluti pekerjaan sebagai petani pandan selama lebih dari 20 tahun, dibantu oleh orang tuanya.

Di tengah naik turunnya harga dan tantangan fisik, Yusup tetap bertahan, menggantungkan hidup dari daun pandan yang ia panen. Ia tidak menanam sendiri, melainkan membeli daun pandan dari pemilik lahan sebelum mengolahnya. Setiap pagi, ia pergi ke kebun untuk mengumpulkan daun pandan dan kembali ke rumah sekitar pukul 10.00 WIB.

Sesampainya di rumah, Yusup langsung membersihkan duri pada daun pandan, memotongnya, lalu mengeringkannya agar siap dijual. Penjualan biasanya dilakukan seminggu sekali.

“Katanya daun pandan ini akan dikirim ke luar daerah untuk dijadikan bahan kerajinan,” ujar Yusup sambil membersihkan duri di daun pandan pada Kamis, 13 Maret 2025.

Namun, hasil panen yang semakin sedikit membuatnya hanya mampu menghasilkan sekitar 8 kilogram daun pandan per hari. Kondisi ini semakin diperparah dengan harga jual yang terus menurun, membuat para petani pandan berharap ada kenaikan harga agar usaha mereka tetap berjalan.

“Dulu harga daun pandan kering bisa sampai Rp 10 ribu per kilogram. Sekarang turun jadi Rp 5 ribu,” keluhnya.

Penurunan harga ini menjadi pukulan berat bagi petani seperti Yusup. Padahal, proses pengeringan daun pandan membutuhkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit—mulai dari memanen, menjemur, hingga mengemasnya untuk dijual ke pengepul. Apalagi saat bulan Ramadan, ketika tenaga terasa lebih terkuras.

“Kalau puasa begini, badan lemas, tapi mau bagaimana lagi? Kami butuh penghasilan,” katanya.

Meski begitu, Yusup tetap bersyukur masih bisa bertani. Ia berharap harga pandan kembali stabil agar para petani kecil seperti dirinya dapat hidup lebih sejahtera.

“Yang penting tetap semangat,” tutupnya. (KM)