Berita  

Gara-Gara Terong Dicabein, Dapur MBG di Caringin Sukabumi Digruduk Ibu-Ibu Wali Murid

 

SUKABUMI, Lingkar Jabar – Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di salah satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kampung Cijengkol, RT 03/RW 05, Desa Cijengkol, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, menuai protes dari ibu-ibu wali murid TK/RA, Kamis (5/11/2026).

Sejumlah ibu-ibu mendatangi dapur SPPG tersebut lantaran mempersoalkan menu makanan yang dinilai tidak sesuai dengan kebutuhan anak-anak. Salah satu yang menjadi sorotan adalah olahan terong dengan bumbu cabai merah yang dianggap kurang layak dikonsumsi anak usia dini.

Selain itu, ukuran ikan lele yang disajikan juga dikeluhkan karena dinilai terlalu kecil dan belum layak untuk memenuhi kebutuhan gizi anak.

Salah seorang ibu wali murid mengungkapkan keprihatinannya terhadap menu MBG yang seharusnya memenuhi kebutuhan gizi anak, tetapi justru menimbulkan kekhawatiran.

“Kami para ibu sangat prihatin, karena menu MBG ini seharusnya bergizi dan aman untuk anak-anak, bukan malah membahayakan,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan ibu wali murid lainnya. Ia mempertanyakan alasan menu terong yang dimasak menggunakan bumbu cabai merah diberikan kepada anak-anak TK/RA.

Menurutnya, menu makanan untuk anak usia dini semestinya disesuaikan dengan usia dan kemampuan mereka dalam mengonsumsi makanan.

“Kami bukan menolak program MBG. Kami justru mendukung karena anak-anak membutuhkan makanan bergizi. Tapi tolong menu yang diberikan benar-benar diperhatikan, jangan sampai anak-anak kesulitan makan karena ada cabenya,” keluhnya.

Ia juga meminta agar pihak dapur lebih memperhatikan kualitas dan ukuran lauk yang diberikan kepada anak-anak.

“Kalau ikan lele ukurannya terlalu kecil, kami juga mempertanyakan apakah sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Harapan kami, makanan yang diberikan benar-benar layak dan sesuai kebutuhan anak-anak,” tambahnya.

Asisten Lapangan (Aslap) SPPG membenarkan adanya kedatangan ibu-ibu wali murid yang menyampaikan keberatan terhadap menu MBG.

“Iya betul, jadi tadi itu mereka ingin perubahan menu, terkait ikan lele karena kita juga sesuai aturan dari BGN sesuai SOP,” ujarnya.

Terkait menu terong yang dibumbui cabai merah, ia menyebut bahwa rasa cabai tersebut tidak terlalu pedas.

“Terong dicabein, itu cabai juga tidak pedas, cuma anget doang. Dan tadi kita akan merubah sesuai apa yang mereka mau,” jelasnya.

Meski pihak SPPG menyatakan bersedia melakukan perubahan menu, keluhan para wali murid menjadi catatan penting bagi pelaksanaan program MBG, khususnya dalam memastikan makanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan anak usia dini.

Program MBG tidak hanya dituntut memenuhi standar gizi dan prosedur operasional, tetapi juga harus memperhatikan keamanan pangan, ukuran porsi, serta kesesuaian menu dengan usia penerima manfaat.

Protes tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan program MBG bukan sekadar soal makanan tersalurkan, melainkan juga memastikan makanan benar-benar layak, aman, dan dapat dikonsumsi oleh anak-anak.

polestoto

lahirtoto

warung403

warung403 login

situs warung403

lahirtoto

LAHIRTOTO

LAHIRTOTO LOGIN

lahirtoto

imgstock

Hosting Gambar

Kasino Online dan Fenomena Perubahan Pola Konsumsi Hiburan di Era Internet

Mengapa Informasi tentang Risiko Kasino Digital Sering Terabaikan Pengguna?

Di Balik Sistem Bonus Kasino Online, Ada Mekanisme yang Perlu Dipahami

Kasino Digital dan Tantangan Menjaga Kendali Diri di Tengah Akses Tanpa Batas

Bagaimana Tampilan Visual Kasino Online Membentuk Persepsi terhadap Permainan?

Ketika Teknologi Kasino Digital Berkembang Lebih Cepat dari Pemahaman Pengguna

Kasino Online dalam Sorotan Perubahan Kebiasaan Transaksi Masyarakat Digital

Mengenali Bias Psikologis yang Memengaruhi Penilaian Peluang di Kasino Online

Kasino Berbasis Internet dan Pentingnya Memahami Jejak Aktivitas Digital

Mengapa Edukasi Risiko Finansial Semakin Relevan dalam Fenomena Kasino Online?