Berita  

Dari Honorer ke Wakasek: Jejak Panjang Pengabdian Diandini Seorang Guru Banjar

Dari Honorer ke Wakasek: Jejak Panjang Pengabdian Diandini Seorang Guru Banjar. Foto: Johan Wijaya/LJ

BANJAR, LingkarJabar Momen peringatan Hari Guru Nasional kembali menghadirkan kisah inspiratif dari para pendidik yang setia mengabdi. Salah satunya adalah Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 3 Banjar, Diandini, yang membagikan perjalanan hidupnya dalam dunia pendidikan sebuah kisah panjang tentang ketekunan, penolakan, dan ketulusan yang tak pernah padam.

Lahir dari keluarga pendidik, nilai-nilai pengabdian sudah melekat kuat sejak kecil.

“Saya dilahirkan dari orang tua yang keduanya juga guru,” ujar Diandini kepada lingkarjabar, Selasa 25 November 2025, seraya menambahkan bahwa Jejak itu pula yang membawanya memilih profesi yang kini menjadi bagian terbesar dalam hidupnya.

Ia memulai karier sebagai tenaga honorer di MA PGII Banjar sebelum mengikuti seleksi PNS. Dua kali mencoba, barulah pada kesempatan kedua ia dinyatakan lulus dan ditempatkan sebagai guru DPK di MTsN Darma, Kabupaten Kuningan. Lima tahun bertugas di daerah tersebut, kondisi kesehatan anak membuatnya harus mengajukan mutasi ke Banjar. Ia kemudian mengabdi sebagai guru DPK di MTsN Banjar selama satu tahun.

Upayanya untuk masuk ke dinas pendidikan pada tahun 2000 tidak berjalan mulus. Ia melamar ke berbagai SMP, namun beberapa sekolah menolak ada yang beralasan formasi tidak tersedia, bahkan ada yang menolak karena tidak membutuhkan guru perempuan.

“Ada yang menolak karena tidak ada formasi, bahkan ada yang menolak karena tidak butuh guru perempuan karena pondok lengkah,” ucapnya mengenang.

Namun tekadnya tidak pernah surut. Pada Agustus 2000, SMPN 3 Banjar akhirnya membuka pintu dan menerima dirinya sebagai guru. Sejak itu, perjalanan pengabdiannya menemukan rumah yang lebih menetap.

“Menjadi guru lebih banyak sukanya daripada dukanya, karena kita membersamai proses pertumbuhan siswa. Apa pun yang keluar dari hati pasti akan sampai ke hati,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa guru tidak dapat memaksa siswa memahami dunia orang dewasa. Guru, katanya, harus mampu menyesuaikan diri dengan masa perkembangan anak, menjadi teman, sahabat, sekaligus orang tua kedua bagi mereka.

Meski demikian, ia mengakui tantangan baru pasca-pandemi Covid-19. Banyak siswa bahkan orang tua mulai memandang remeh peran sekolah.

“Pendidikan tidak berjalan ideal jika berat sebelah. Siswa ditumbuhkan karakternya di sekolah, tetapi di rumah orang tua abai. Ini kendala yang sangat dirasakan sekarang,” tegasnya.

Melalui kisah hidupnya, Diandini berharap semangat ketulusan dan nilai pengabdian seorang guru tetap terjaga dan diwariskan kepada generasi penerus.

“Saya percaya, ketulusan yang berasal dari hati akan selalu menemukan jalannya,” tutupnya. (Johan Wijaya)