Sukabumi, Lingkar Jabar – Di tengah ribuan pengurus RT dan RW yang memadati halaman Balai Kota Sukabumi dalam aksi damai “2.6.26: Sukabumi Menggugat”, satu sosok tampil menonjol dengan sikap tegas dan suara lantang. Ia adalah Arif Rahman, Bendahara Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Sukabumi. Hadir di barisan terdepan, Arif menegaskan komitmennya untuk tidak tinggal diam melihat aspirasi masyarakat yang selama ini terabaikan. Selasa 02/06/2026
Bagi Arif Rahman, kehadirannya di lokasi aksi ini bukan sekadar mendukung, melainkan sebuah panggilan tanggung jawab besar sebagai bagian dari pemuda dan pemangku kepentingan di daerah. Dengan sorot mata penuh keyakinan, ia menyampaikan tekadnya yang bulat untuk menjadi ujung tombak perjuangan rakyat.
“Saya bertekad bulat, saya dan rekan-rekan pemuda akan berdiri tegak menjadi garda terdepan dalam menyuarakan aspirasi masyarakat. Kami tidak akan membiarkan suara warga, suara para RT dan RW—yang merupakan pilar terdekat masyarakat—berhenti di tengah jalan. Apa yang menjadi hak dan harapan rakyat Kota Sukabumi, akan kami perjuangkan sampai didengar, dijawab, dan dipenuhi oleh pemerintah,” tegas Arif Rahman di hadapan massa yang memberikan dukungan tepuk tangan meriah.
Menurut Arif, peran RT dan RW sangat vital. Mereka adalah garda terdepan pelayanan publik yang berhadapan langsung dengan dinamika warga setiap harinya. Oleh karena itu, ketika keberadaan mereka dianggap tidak dihargai dan janji-janji yang disampaikan tidak kunjung terealisasi, maka itu adalah masalah seluruh elemen masyarakat, termasuk pemuda.
“Kami melihat, rekan-rekan RT dan RW ini adalah tulang punggung kewilayahan. Jika mereka kesulitan, jika mereka merasa kecewa karena janji politik yang belum dipenuhi—seperti Program Dana Abadi yang sampai kini tak ada kabarnya—dan merasa disinggung oleh pernyataan pejabat, maka itu adalah tanggung jawab kita semua untuk mengawal dan menyuarakannya,” tambahnya.
Arif Rahman menegaskan, kehadiran elemen pemuda dalam aksi ini adalah bukti nyata bahwa lintas generasi bersatu. Ia menilai, tuntutan untuk meminta klarifikasi dan permohonan maaf dari Walikota Sukabumi Ayep Zaki, serta penagihan janji-janji masa kampanye, adalah hal yang sangat wajar dan mutlak harus dipenuhi.
“Pemerintah harus hadir, harus mendengarkan, dan harus menghargai. Kami tidak minta yang lain, kami hanya minta keadilan dan kepastian. Jadilah pemimpin yang berani menjawab, berani bertemu rakyat, dan berani menepati janji. Kami akan terus berada di barisan paling depan memastikan aspirasi ini tidak hilang begitu saja,” ucap Arif menutup pernyataannya dengan nada penuh semangat.
Hingga siang, Arif Rahman masih terlihat setia mendampingi massa aksi di depan Balai Kota, menunggu respons langsung dari Walikota. Baginya, perjuangan ini baru dimulai, dan ia siap menjadi jembatan sekaligus benteng bagi suara-suara masyarakat Sukabumi agar tidak lagi terpinggirkan.






