Berita  

Dua Dari Puluhan Siswa SMPN 4 Pamarican Dirawat di RSUD Akibat Keracunan Makanan MBG

Dua Dari Puluhan Siswa SMPN 4 Pamarican Dirawat di RSUD Akibat Keracunan Makanan MBG. Foto: Johan Wijaya/LJ

BANJAR, LingkarJabar  — Dua dari puluhan siswa SMPN 4 Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, dilarikan ke RSUD Kota Banjar setelah diduga mengalami keracunan makanan dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan di sekolah.

Kedua siswa tersebut adalah Rehan Surya Firdaus, siswa kelas VII, dan M. Ali Maskur Musa, siswa kelas VIII. Mereka mengalami gejala seperti mual, muntah, dan sesak napas setelah menyantap hidangan makan siang yang disediakan oleh pihak penyedia, yaitu SPPG Sukajadi, Pamarican.

Menurut Marsela, salah satu guru yang turut mendampingi korban di RSUD Kota Banjar, siswa sebelumnya sudah mengeluhkan rasa dan bau tak sedap dari makanan, terutama pada bagian daging goreng.

“Awalnya siswa mengeluhkan rasa hidangan yang tidak enak, terutama daging yang mengeluarkan bau. Saya sempat melarang mereka untuk melanjutkan makan jika terasa tidak enak,” ungkap Marsela kepada lingkarjabar.com di RSUD Kota Banjar, Senin 29 September 2025.

Hal serupa disampaikan oleh Romiati, guru lainnya, yang menjelaskan bahwa makanan MBG biasanya datang pukul 09.30 WIB dan dibagikan ke masing-masing kelas sekitar pukul 10.00 WIB oleh siswa yang sedang piket.

“Setelah makanan datang, siswa piket langsung membagikannya ke kelas. Hari itu menunya daging, tapi memang ada yang bilang baunya agak menyengat,” jelas Romiati sambil menunjukkan daftar menu hari itu.

Sementara itu, petugas dari Puskesmas Pamarican, Teguh, melaporkan bahwa hingga pukul 13.50 WIB, tercatat 14 siswa mengalami gejala keracunan, dengan 2 siswa dirujuk ke RSUD Kota Banjar.

“Sementara ini total ada 16 siswa yang menunjukkan gejala keracunan. Kami juga mendapat informasi bahwa ada korban lainnya yang dirujuk ke Puskesmas Banjarsari. Kemungkinan jumlah korban masih bisa bertambah,” kata Teguh.

Rina orang tua dari M. Ali Maskur Musa yang kebetulan ikut mendampingi anaknya mengaku syok menerima kabar tersebut, apalagi saat ini masih terus bertambah siswa yang mengalami keracunan.

“Saya merasa syok dan juga takut lebih baik jangan dulu ada MBG deh kalau justru mengacam kesehatan dan juga keselamatan siswa, saya jadi trauma,”ungkapnya.

Penulis: Johan WijayaEditor: Dry