PANGANDARAN, LingkarJabar – Sebuah video yang menampilkan seorang ibu bernama Santi menangis meminta bantuan di pos pengaduan KDM, viral di media sosial melalui kanal YouTube Lembur Pakuan Channel. Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Desa Pangandaran memberikan klarifikasi resmi agar masyarakat tidak salah paham terhadap informasi yang beredar.
Kepala Desa Pangandaran, Adi Fitriyadi, menegaskan bahwa kondisi yang dialami Ibu Santi merupakan wajar karena kepanikan seorang ibu setelah anaknya mengalami kecelakaan serius hingga gegar otak.
“Putra Ibu Santi bernama Haikal Syaqi (15), warga Dusun Parapat RT 07. Sejak kejadian kecelakaan pada Minggu, 7 September 2025, pemerintah desa bersama keluarga terus melakukan pendampingan,” ujar Adi dalam keterangan resminya, Sabtu 27 September 2025.
Menurut Adi, Haikal awalnya mendapat penanganan di Puskesmas sebelum dirujuk ke RSUD Pandega. Karena membutuhkan perawatan lebih lanjut, pasien kemudian dirujuk ke RSUD Margono, Purwokerto, Jawa Tengah.
“Pihak RSUD Margono saat itu siap menangani kondisi Haikal. Sesuai prosedur, rumah sakit meminta keluarga segera membuat laporan ke Satlantas sebagai syarat administrasi agar klaim BPJS dapat diproses. Alhamdulillah, seluruh biaya pengobatan akhirnya ditanggung BPJS sehingga keluarga tidak terbebani,” jelasnya.
Setelah menjalani perawatan intensif sekitar dua pekan, Haikal diperbolehkan pulang dengan catatan harus menjalani kontrol rutin setiap tiga hari sekali.
Mengingat kondisi ekonomi keluarga yang terbatas, Pemerintah Desa Pangandaran berkomitmen memberikan pendampingan dan bantuan kebutuhan sehari-hari selama masa pemulihan.
“Bupati Pangandaran, Ibu Citra Pitriyami, juga menyatakan kesiapannya membantu keluarga korban, khususnya terkait kebutuhan hidup sehari-hari,” tambah Adi.
Adi juga meluruskan bahwa saat awal kejadian, Ibu Santi sedang berada di Bandung. Ia baru tiba setelah anaknya dirawat di rumah singgah. Karena khawatir dan panik, Santi sempat menyampaikan keluhan terkait pembiayaan BPJS yang kemudian terekam dalam video hingga viral.
“Kami menilai hal ini hanyalah miskomunikasi. Faktanya, sejak awal pemerintah desa, pihak keluarga, serta instansi terkait telah melakukan pendampingan penuh dalam proses pengobatan maupun pemulihan korban,” tegas Adi.
Sementara itu, Herna, adik ipar Santi, mewakili pihak keluarga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat maupun pemerintah atas kegaduhan yang timbul akibat video tersebut.
“Kami berterima kasih kepada Pemerintah Desa Pangandaran dan Ibu Bupati atas segala perhatian dan bantuan yang diberikan. Video yang sempat viral kemarin murni karena kepanikan ibu, tidak ada maksud lain. Kami memohon maaf jika hal itu menimbulkan kegaduhan,” ujarnya.
Dengan adanya klarifikasi ini, Pemerintah Desa Pangandaran berharap masyarakat tidak lagi terpengaruh oleh informasi yang belum tentu sesuai dengan fakta di lapangan, serta tetap menjaga ketenangan di tengah situasi pemulihan korban kecelakaan.






