CIAMIS, LingkarJabar – Menyambut Ramadhan 1447 H, bukan hanya soal persiapan ibadah secara personal, tetapi juga bagaimana memperkuat solidaritas sosial. Semangat itulah yang tergambar dalam kegiatan santunan dan doa bersama yang digelar Yayasan Nurussalam Cidolog pada Selasa (17/2/2026).
Di tengah suasana sederhana namun penuh kehangatan, sebanyak 33 anak yatim piatu dan 58 lansia dhuafa berkumpul dalam satu majelis kebersamaan. Bukan sekadar menerima bantuan, mereka hadir sebagai bagian dari keluarga besar yayasan yang selama ini menjadi ruang pembinaan dan perlindungan.
Kegiatan diawali dengan ramah tamah yang mencairkan suasana. Canda anak-anak berpadu dengan senyum para lansia, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang kuat. Doa bersama yang dipimpin Pimpinan Yayasan, Kyai Nanang Nursalam, menjadi titik refleksi bersama bahwa Ramadhan adalah momentum memperbaiki diri sekaligus memperkuat kepedulian.
Berbeda dari sekadar agenda seremonial, kegiatan ini juga memuat pesan sosial yang tegas: Ramadhan harus disambut dengan memastikan tidak ada yang merasa ditinggalkan. Pembagian paket pangan berupa ikan segar dan makan bersama menjadi simbol kesetaraan—bahwa kebahagiaan menyambut bulan suci adalah hak semua kalangan.
Ramadhan dan Spirit Keadilan Sosial
Kyai Nanang Nursalam menegaskan, menyambut Ramadhan tidak cukup dengan persiapan fisik dan ritual semata. Ia menilai, kegembiraan dalam menyongsong bulan suci juga harus diwujudkan dalam tindakan nyata membantu sesama.
“Kita ingin Ramadhan ini terasa bagi semua. Kegembiraan itu harus dirasakan bersama, bukan hanya oleh yang mampu, tetapi juga oleh mereka yang membutuhkan perhatian,” ungkapnya.
Pesan tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan ini bukan hanya rutinitas tahunan, melainkan bagian dari misi besar yayasan dalam membangun nilai empati dan kebersamaan di tengah masyarakat.
Peran Lembaga Sosial di Akar Rumput
Sebagai lembaga sosial-keagamaan di Desa Ciparay, Kecamatan Cidolog, Kabupaten Ciamis, Yayasan Nurussalam terus memperluas peran pembinaan melalui pendidikan Islam, pengasuhan yatim, serta pemberdayaan lansia. Kehadiran Babinsa Desa Ciparay dan unsur kelembagaan pendidikan dalam kegiatan ini turut memperlihatkan dukungan lintas elemen terhadap gerakan sosial berbasis keumatan.
Di tengah berbagai tantangan sosial, langkah kecil seperti santunan dan doa bersama menjadi pengingat bahwa kekuatan masyarakat sering kali lahir dari kepedulian yang konsisten.
Ramadhan 1447 H pun disambut bukan hanya dengan persiapan ibadah, tetapi juga dengan menanam harapan—bahwa kebersamaan adalah fondasi utama dalam membangun keberkahan. (Johan Wijaya)






