Banjar, Lingkar Jabar – Aktivitas pengurugan lahan proyek perumahan di kawasan Tanjungsukur, Kota Banjar, tak hanya berdampak pada satu titik. Keluhan warga kini meluas karena distribusi tanah proyek dinilai mengganggu dan membahayakan pengguna di dua ruas jalan utama, yakni Jalan Mayjend Lili Kusuma dan Jalan Tentara Pelajar.
Kedua ruas jalan tersebut menjadi lintasan mobil dump truck pengangkut tanah yang keluar-masuk area proyek setiap hari. Material tanah yang menempel pada roda kendaraan berat kerap terlepas dan tercecer di badan jalan.
Saat hujan turun, lumpur menyebar dan membuat permukaan aspal licin. Sebaliknya, ketika cuaca panas, sisa lumpur mengering dan berubah menjadi debu yang beterbangan.
Warga menilai kondisi ini bukan lagi gangguan sementara, melainkan dampak nyata yang memerlukan penanganan serius.
Terlebih, Jalan Mayjend Lili Kusuma dan Jalan Tentara Pelajar merupakan jalur vital dengan arus kendaraan yang cukup padat, terutama pada jam berangkat dan pulang kerja.
“Debu dan lumpur ini bukan hanya mengganggu, tapi bisa berdampak pada kesehatan warga. Anak-anak dan pengendara setiap hari terpapar,” ungkap seorang warga yang tak mau di sebut namanya yang tinggal tak jauh dari lokasi. Kamis (19/2/2026).
Selain risiko gangguan kesehatan akibat paparan debu, potensi kecelakaan juga menjadi kekhawatiran utama. Pengendara sepeda motor disebut paling rentan tergelincir saat melintasi titik-titik yang dipenuhi lumpur. Beberapa warga bahkan mengaku harus memperlambat laju kendaraan secara drastis demi menghindari risiko terjatuh.
Situasi ini memunculkan pertanyaan terkait standar operasional proyek dan pengawasan dari instansi terkait. Warga mendesak agar pengembang segera menyediakan fasilitas pencucian roda kendaraan sebelum keluar lokasi, melakukan pembersihan jalan secara rutin, serta memasang rambu peringatan di titik rawan.
Keluhan juga datang langsung dari para pengguna jalan yang setiap hari melintas di dua ruas tersebut. Mereka mengaku kondisi jalan yang kerap dipenuhi lumpur sangat membahayakan, terutama bagi pengendara sepeda motor.
“Saya hampir terpeleset waktu lewat sini habis hujan. Jalannya licin sekali karena tanah yang tercecer dari truk,” ujar, Supriatna seorang pengendara yang setiap hari lewat jalan tersebut.
Pengguna jalan lainnya mengeluhkan debu yang beterbangan saat cuaca panas. Menurutnya, jarak pandang menjadi terganggu dan pernapasan terasa tidak nyaman.
“Kalau panas, debunya tebal sekali. Mata perih dan napas juga terasa sesak. Ini bukan cuma soal kotor, tapi soal keselamatan dan kesehatan,” keluhnya.
Para pengguna jalan berharap ada tindakan cepat dari pihak pengembang maupun pemerintah setempat, agar jalur yang setiap hari mereka gunakan tetap aman dan layak dilintasi.
Mereka menegaskan bahwa pembangunan memang bagian dari pertumbuhan kota, namun pelaksanaannya harus tetap memperhatikan keselamatan publik dan kesehatan lingkungan. Hingga kini, aktivitas dump truck pengangkut tanah masih terus berlangsung, sementara warga berharap ada langkah tegas agar dampaknya tidak semakin meluas.






