Berita  

Dari Akses Darurat Jadi Potensi Wisata, Inisiatif Warga Karangpucung Kulon Tuai Harapan

Dari Akses Darurat Jadi Potensi Wisata, Inisiatif Warga Karangpucung Kulon Tuai Harapan. Foto: Johan Wijaya/LJ

BANJAR, LingkarJabar — Upaya swadaya warga Dusun Karangpucung Kulon, Desa Jajawar, membangun akses jalan baru membuahkan dampak positif bagi wilayah mereka. Selain mengakhiri isolasi kawasan, jalan tersebut juga membuka peluang pengembangan ekonomi berbasis wisata alam.

Jalan sepanjang kurang lebih 280 meter itu dibangun sebagai jalur alternatif yang lebih aman bagi warga, menyusul beroperasinya jalur kereta api double track yang selama ini dinilai berisiko tinggi bagi mobilitas masyarakat setempat.

Kepala Dusun Karangpucung Kulon, Tatang, mengungkapkan bahwa inisiatif pembangunan jalan muncul dari kekhawatiran warga terhadap keselamatan. Sejak adanya jalur kereta api ganda, akses warga di wilayah utara dusun praktis terputus karena tidak tersedia jalur penghubung yang layak.

“Setelah ada double track, wilayah kami seperti terisolasi. Kalau melintas lewat jalur kereta tentu sangat berbahaya. Dari situ warga sepakat membuka akses jalan sendiri,” ujar Tatang, Senin (2/2/2026).

Pembangunan jalan dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan warga dan komunitas setempat. Meski dibangun secara swadaya, keberadaan akses tersebut kini mulai dirasakan manfaatnya, terutama dalam meningkatkan keamanan dan konektivitas antarwilayah.

Seiring proses pembukaan jalan, warga menemukan potensi lain di kawasan tersebut. Area yang sebelumnya terbengkalai ternyata memiliki panorama alam yang menarik dan berpeluang dikembangkan menjadi destinasi wisata alam.

“Awalnya memang fokus ke akses jalan. Tapi setelah dibersihkan, kelihatan potensi alamnya. Sayang kalau tidak dimanfaatkan,” kata Tatang.

Saat ini, pengelolaan kawasan wisata masih bersifat sederhana. Warga baru menyediakan beberapa titik swafoto sebagai langkah awal untuk menarik minat pengunjung. Ke depan, kawasan tersebut direncanakan dikembangkan menjadi wisata alam terbuka, termasuk penyediaan area perkemahan.

Meski demikian, keterbatasan anggaran masih menjadi kendala utama. Selain itu, status lahan yang berada di bawah kepemilikan BUMN, yakni Perum Jasa Tirta (PJT), memerlukan koordinasi dan sinergi lintas pihak agar pengelolaan dapat dilakukan secara legal dan berkelanjutan.

“Kalau hanya mengandalkan swadaya tentu berat. Kami berharap ada investor atau pihak ketiga yang bisa bekerja sama, supaya pengembangannya maksimal dan tertib,” ujarnya.

Warga berharap pembangunan jalan dan rintisan wisata alam ini dapat menjadi solusi jangka panjang bagi wilayah yang selama ini terpinggirkan, sekaligus membuka peluang usaha baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. (Johan Wijaya)