BANJAR, LingkarJabar – Upaya mendorong regenerasi petani kembali menjadi sorotan dalam kegiatan reses masa persidangan II tahun sidang 2025–2026 yang digelar anggota DPD, Cecep Dani Supian, di Kota Banjar, Selasa (31/3/2026).
Dalam pertemuan yang berlangsung di Aula DPD PKS Kota Banjar tersebut, isu utama yang mengemuka bukan sekadar penyerapan aspirasi, melainkan bagaimana membuka jalan bagi generasi muda agar lebih serius menekuni sektor pertanian.
Cecep menilai, potensi anak muda di bidang pertanian sebenarnya cukup besar. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya tergarap karena terbentur berbagai kendala, terutama keterbatasan akses terhadap pelatihan, teknologi, serta pendampingan yang berkelanjutan.
“Minat itu ada, tetapi belum ditopang sistem yang memadai. Anak muda butuh ruang belajar, akses teknologi, dan dukungan nyata agar mereka yakin untuk terjun ke sektor ini,” ungkapnya.
Menurutnya, penguatan peran petani milenial menjadi bagian penting dalam menjawab tantangan ketahanan pangan di masa depan. Tanpa adanya regenerasi, sektor pertanian dikhawatirkan akan tertinggal di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat.
Dalam forum tersebut, sejumlah peserta menyampaikan berbagai kebutuhan yang dinilai krusial untuk mendukung pengembangan petani muda. Di antaranya pelatihan berbasis teknologi pertanian modern, bantuan alat dan sarana produksi, hingga akses pemasaran yang lebih luas dan berkelanjutan.
Menanggapi hal itu, Cecep menegaskan komitmennya untuk menjembatani aspirasi tersebut melalui program-program yang lebih terarah. Ia menekankan pentingnya pendekatan jangka panjang agar pengembangan petani muda tidak berhenti pada tahap awal saja.
“Kita tidak hanya ingin mencetak petani, tetapi juga pelaku usaha di sektor pertanian. Mereka harus paham bagaimana mengelola produksi, membaca pasar, hingga memanfaatkan teknologi digital,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia melihat keterlibatan generasi Z dalam sektor pertanian dapat menjadi solusi strategis untuk mengurangi angka pengangguran sekaligus memperkuat ekonomi daerah. Dengan pendekatan yang tepat, pertanian dinilai mampu menjadi sektor yang kompetitif dan menjanjikan bagi anak muda.
Reses ini pun menjadi momentum awal untuk memperkuat sinergi antara pemerintah dan masyarakat. Harapannya, melalui dukungan kebijakan dan fasilitasi yang tepat, generasi muda di Kota Banjar tidak lagi memandang pertanian sebagai pilihan terakhir, melainkan sebagai peluang masa depan yang potensial dan berdaya saing.(Johan Wijaya)






