Berita  

Padatnya Arus Balik Banjar: Saat Rindu Usai, Perpisahan Kembali Dimulai

BANJAR, LingkarJabar— Arus balik Lebaran di Terminal Tipe A Kota Banjar tahun ini tak hanya menghadirkan lonjakan jumlah penumpang, tetapi juga menyimpan beragam cerita tentang rindu, kebersamaan, dan perpisahan yang kembali terulang.

Sejak Selasa (24/03/2026), aktivitas di terminal mulai menunjukkan peningkatan signifikan. Namun hingga Rabu (25/03/2026), kepadatan belum juga mereda. Kepala Pengawas Satuan Pelayanan Terminal Tipe A Kota Banjar, Jenny Mariya Wirandani, menyebut arus balik tahun ini cenderung berlangsung lebih panjang dibanding hari-hari sebelumnya.

“Puncaknya memang sudah mulai sejak kemarin, tetapi sampai hari ini penumpang masih terus berdatangan dan berangkat. Kami perkirakan hingga malam nanti jumlahnya masih akan meningkat,” ujarnya saat ditemui di area terminal.kamis (26/3/2026)

Berdasarkan data sementara hingga sore hari, tercatat sebanyak 113 bus tiba dan 111 armada telah diberangkatkan, dengan jumlah penumpang mencapai 413 orang. Jika tren ini berlanjut hingga malam, bukan tidak mungkin puncak arus balik terjadi pada hari ini. Mayoritas penumpang bergerak menuju wilayah barat, seperti Jakarta, Bandung, Tangerang, dan Cikarang—kota-kota tujuan utama para perantau kembali mencari nafkah.

Namun di balik angka-angka tersebut, terminal juga menjadi ruang yang mempertemukan berbagai emosi. Ada yang terburu-buru mengejar jadwal keberangkatan, ada pula yang masih menyempatkan diri berbincang hangat sebelum berpisah.

Salah satunya adalah Inez, seorang mahasiswi yang hendak kembali ke Bandung setelah menghabiskan libur Lebaran di rumah neneknya di wilayah Pataruman. Baginya, mudik bukan soal perjalanan jauh, melainkan tentang menjaga kedekatan keluarga.

“Setiap tahun pasti pulang ke Banjar. Lebarannya sederhana, nggak ke mana-mana, tapi justru itu yang paling terasa karena bisa kumpul keluarga,” ungkapnya.

Cerita serupa datang dari Adi, seorang pekerja di Jakarta yang juga tengah bersiap kembali ke rutinitas. Ia mengaku momen mudik selalu menjadi waktu paling dinanti, meski harus kembali berpisah dengan keluarga.

“Kerja di Jakarta memang sudah jadi pilihan. Tapi setiap Lebaran, pulang ke Banjar itu wajib. Di sini bisa kumpul sama keluarga, itu yang nggak tergantikan. Walaupun berat, tetap harus balik lagi cari nafkah,” ujar Adi.

Inez berangkat bersama orang tuanya yang juga akan kembali bekerja. Momen seperti ini, menurutnya, selalu menjadi pengingat bahwa waktu bersama keluarga sangat terbatas, terutama ketika rutinitas kembali menanti.

Fenomena arus balik di Banjar mencerminkan lebih dari sekadar mobilitas masyarakat. Ia menjadi gambaran siklus tahunan yang sarat makna—tentang pulang untuk menguatkan ikatan, dan pergi untuk melanjutkan kehidupan.

Di sisi lain, pihak terminal terus mengimbau penumpang untuk menjaga kesehatan dan keselamatan selama perjalanan. Kepadatan arus lalu lintas diperkirakan masih akan berlangsung hingga akhir pekan.

Di tengah hiruk-pikuk terminal, satu hal yang tetap sama: setiap keberangkatan selalu membawa cerita, dan setiap kepulangan selalu menyisakan alasan untuk kembali.(Johan Wijaya)