PANGANDARAN, LingkarJabar – Desa Maruyungsari, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, memiliki letak geografis yang unik karena langsung berbatasan dengan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Kondisi ini membuat aktivitas sebagian warganya kerap menyeberang ke Jawa Tengah dengan menggunakan rakit di Sungai Citanduy.
Tokoh masyarakat Desa Maruyungsari, Solihudin, menjelaskan bahwa wilayahnya diapit oleh dua sungai besar, yakni Sungai Citanduy dan Sungai Ciseel. Kedua sungai ini menjadi jalur utama mobilitas masyarakat sehari-hari.
“Naik rakit terpaksa ditempuh karena kalau lewat jembatan harus memutar cukup jauh, sekitar 10 kilometer. Untuk keluar dari sisi barat, warga hanya mengandalkan jembatan kayu sederhana yang menghubungkan Desa Maruyungsari dengan Desa Karangpawitan di atas Sungai Ciseel. Jembatan ini dirawat secara swadaya oleh masyarakat dengan biaya yang sebagian besar berasal dari para dermawan,” ujar Solihudin melalui pesan WhatsApp, Jumat 19 September 2025.
Ia menambahkan, masyarakat berharap pemerintah dapat membangun jembatan permanen di Sungai Ciseel agar akses warga semakin mudah dan aman.

Meskipun secara administratif berada di Jawa Barat, sekitar 95 persen warga Desa Maruyungsari berbahasa Jawa. Namun, banyak pula yang menguasai bahasa Sunda, terutama generasi muda.
“Di sini mayoritas suku Jawa, tapi tidak sedikit yang bisa berbahasa Sunda dengan baik,” jelas Solihudin.
Mata pencaharian utama warga adalah bertani padi. Dalam kondisi normal dengan irigasi lancar dan cuaca yang mendukung, petani bisa melakukan panen dua kali dalam setahun.
“Alhamdulillah, kami masih hidup rukun dan damai. Budaya gotong royong di sini masih sangat kuat, warga saling membantu jika ada yang kesusahan. Hubungan antar tetangga juga tetap terjalin erat,” tuturnya.
Sebagai tokoh masyarakat, Solihudin mengajak warganya untuk terus menjaga lingkungan, baik dari aspek kebersihan maupun penataan kawasan. Menurutnya, semangat Pemerintah Kabupaten Pangandaran maupun Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang peduli terhadap kelestarian lingkungan patut dijadikan teladan.
“Apalagi Desa Maruyungsari ini berada di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Bagi kami, desa ini adalah wajah terdepan Jawa Barat. Kalau wajahnya tidak terawat, tentu akan memberikan kesan kurang baik bagi siapa pun yang pertama kali melihatnya,” katanya.
Solihudin menekankan pentingnya perhatian pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat terhadap pembangunan kawasan perbatasan. Program-program strategis diharapkan dapat menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
“Harapan kami, desa di perbatasan ini bisa tampil mempesona sehingga memberikan kesan positif terhadap Jawa Barat. Ada pepatah Sunda yang pas untuk menggambarkan itu: ‘sisina bae alus komo dijerona’—luarnya indah, apalagi dalamnya. Mudah-mudahan ini bisa terwujud,” pungkasnya.






