PANGANDARAN, LingkarJabar – Kasus dugaan keracunan delapan siswa MI Attarbiyah di Pangandaran setelah menyantap menu program Makanan Bergizi Gratis (MBG) membuka mata banyak pihak tentang pentingnya pengawasan kualitas makanan sekolah. Meski kondisi para siswa sudah stabil, kejadian ini menegaskan bahwa program gizi untuk anak-anak harus dijalankan dengan ekstra hati-hati.
Menanggapi peristiwa ini, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pangandaran, Yadi Sukmayadi, mengatakan pihaknya langsung melakukan langkah evakuasi begitu menerima laporan adanya dugaan keracunan massal di sekolah tersebut.
Menurut Yadi, saat ini tim kesehatan telah mengambil sampel makanan yang dikonsumsi siswa, termasuk sisa muntahan, untuk dilakukan uji laboratorium. Langkah ini diperlukan guna memastikan penyebab pasti dugaan keracunan tersebut.
“Dari delapan siswa yang dirawat, empat sudah pulih, sementara empat lainnya masih dalam tahap observasi. Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi mereka relatif stabil. Namun, untuk kepastian penyebab, kami masih menunggu hasil uji laboratorium,” jelas Yadi.
Sebelumnya, Sebanyak delapan siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Attarbiyah, Leuwiliang, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, dilarikan ke Puskesmas Cigugur pada Rabu 1 Oktober 2025. Para siswa tersebut diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disediakan di sekolah.
Menurut keterangan guru MI Attarbiyah, Tati, makanan yang disajikan kepada siswa pada pagi hari sekitar pukul 08.30 WIB terdiri dari capcay, tahu, buah, dan ayam kecap. Tak lama setelah mengonsumsi hidangan tersebut, sejumlah siswa mulai merasakan gejala tidak biasa seperti pusing, mual, sesak napas, lemas, hingga muntah.
“Makanannya terlihat normal, tidak basi, dan tidak berair. Namun tiba-tiba anak-anak merasa mual, sakit perut, serta ada yang pusing,” jelas Tati kepada wartawan seperti yang dikutip dari harapanrakyat.com, Rabu 01 Oktober 2025.






