BANJAR, LingkarJabar – Sebanyak 157 pesilat muda dari 15 sekolah di Kota Banjar mengikuti ujian kenaikan tingkat Perguruan Silat Perisai Diri (PSPD). Minggu (26/10/2025).
Kegiatan yang berlangsung di SDN 1 Banjar ini, menjadi ajang evaluasi kemampuan teknik, fisik, dan mental para anggota, sekaligus mempererat kebersamaan antar pesilat dari berbagai jenjang usia mulai dari SD hingga SMA.
Ketua Umum Perisai Diri Cabang Kota Banjar, Tono Tarsono, mengatakan ujian ini merupakan bagian dari proses pembinaan berjenjang yang rutin dilakukan perguruan. Setiap peserta diuji berdasarkan tingkatan sabuk dan kemampuan yang telah mereka pelajari selama masa latihan.
“Syarat kelulusan berbeda di setiap tingkatan. Untuk usia dini, fokusnya pada hafalan jurus internal paguron. Sementara di tingkat SMP dan SMA, peserta sudah dikenalkan pada jurus tunggal baku yang sesuai dengan ketentuan IPSI,” jelas Tono.
Ia menambahkan, di Perisai Diri Cabang Banjar terdapat empat tingkatan sabuk utama yang ditempuh oleh anggota. Setelah mencapai sabuk merah, pesilat akan naik ke tingkatan berikutnya, yaitu sabuk B.
“Untuk pemula, latihan lebih difokuskan pada teknik dasar dan pembentukan fisik. Sementara di tingkat lanjut sudah mulai ada latihan pernapasan, pertarungan dengan dan tanpa body protector, hingga pembinaan mental spiritual,” ujarnya.
Tono menilai kegiatan ujian ini juga berfungsi sebagai sarana evaluasi latihan per semester, agar perkembangan kemampuan anggota dapat terukur dan jumlah pesilat aktif bisa terpantau.
“Harapannya, setiap empat hingga enam bulan sekali kita bisa mengadakan evaluasi seperti ini. Dengan begitu, kemajuan latihan bisa terlihat dan kita tahu sejauh mana perkembangan anggota di setiap tingkatan,” katanya.
Meski jumlah peserta tahun ini menurun dibanding tahun sebelumnya dari sekitar 300 menjadi 157 peserta. Tono menyebut semangat para pesilat muda tidak surut. Penurunan jumlah peserta lebih disebabkan oleh padatnya kegiatan sekolah dan lomba di luar perguruan.
“Yang penting semangat dan konsistensi latihan tetap terjaga. Ujian ini bukan sekadar formalitas, tapi juga wadah silaturahmi antaranggota. Siswa baru pun bisa mengenal para seniornya dan menumbuhkan rasa kebersamaan,” pungkasnya. (Johan Wijaya)






