Berita  

Kisah Ica, Pelajar SD di Pangandaran Jualan Sate Totok Bantu Ekonomi Nenek

Kisah Ica, Pelajar SD di Pangandaran Jualan Sate Totok Bantu Ekonomi Nenek. Foto: Ist/LJ

PANGANDARAN, LingkarJabar — Di sela jam sekolah, Khoenunisa (11), siswi kelas V SDN 2 Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, berjualan sate totok di lingkungan sekolah. Anak yang akrab disapa Ica itu mengaku berjualan untuk membantu kebutuhan sang nenek yang merawatnya.

Ica mengatakan aktivitas tersebut dilakukannya setiap hari, namun di luar jam pelajaran. Ia menyebut keputusan berjualan muncul dari keinginannya sendiri.

“Jualan ini keinginan saya sendiri, tidak ada yang menyuruh,” kata Ica saat ditemui di sekolahnya, Senin, 9 Februari 2026.

Kisah Ica kemudian sampai ke Pemerintah Kabupaten Pangandaran. Bupati Pangandaran Citra Pitriyami mendatangi SDN 2 Kalipucang untuk bertemu langsung dengan Ica. Kedatangan bupati disambut para siswa yang berbaris di halaman sekolah.

Dalam kunjungan tersebut, Citra berbincang dengan Ica dan membeli seluruh sate totok yang dijualnya. Sate itu kemudian dibagikan kepada siswa lain. Kepada bupati, Ica juga menceritakan pernah berjualan mainan anak-anak. Hasil jualannya diserahkan kepada neneknya untuk kebutuhan sehari-hari.

Ica mengaku hanya memiliki satu setel seragam sekolah yang dipakai bergantian setiap hari. Mendengar hal itu, Citra mengaku terharu. Ia menilai sikap mandiri yang ditunjukkan Ica patut diapresiasi.

“Anak seusia Ica sudah berani membantu neneknya. Ini sikap yang luar biasa,” ujar Citra.

Menurut Citra, Ica tetap memprioritaskan pendidikan meski berjualan.

“Dia tetap sekolah dan tidak mengganggu jam belajar. Ini contoh yang baik,” katanya.

Sebagai bentuk perhatian, Citra mengajak Ica dan neneknya ke Pasar Kalipucang menggunakan mobil dinas untuk membelikan seragam sekolah baru. Nenek Ica yang mendampingi terlihat menahan haru saat menyaksikan cucunya mendapat perhatian dari pemerintah daerah.

Kisah Ica menjadi potret anak yang berupaya mandiri di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, tanpa meninggalkan kewajibannya sebagai pelajar. (Agus Giantoro)