BOGOR, LingkarJabar – Di tengah gegap gempita modernisasi dan derasnya arus budaya populer, ada satu sosok yang tetap berdiri kokoh menjaga nyala warisan leluhur. Dialah Ki Bambang Sumantri, S.Sos, Ketua Umum Pamong Budaya Bogor seorang penjaga tradisi yang setia, meski harus berjibaku dengan kerasnya realitas kehidupan.
Lebih dari separuh hidupnya didedikasikan untuk merawat budaya. Namun siapa sangka, di balik kiprahnya sebagai tokoh budaya terkemuka, Ki Bambang juga seorang pemulung botol dan kaleng bekas di sekitar area Pemda Kabupaten Bogor. Setiap pagi, ia menyusuri jalanan dengan karung di punggung dan semangat yang tak pernah surut di dada.
“Memungut sampah itu amal jariyah,” ucapnya sambil tersenyum tulus. “Selain menjaga lingkungan, ini juga cara saya mencari nafkah untuk keluarga.”
Dalam seminggu, hasil jerih payahnya hanya berkisar antara Rp200.000 hingga Rp500.000. Jauh dari gemerlap panggung dan penghargaan yang kerap ia gelar untuk seniman lainnya. Namun perjuangannya tak ternilai. Sebab, dalam dirinya menyala api perjuangan budaya yang tak bisa diukur oleh materi.
Ki Bambang telah merevitalisasi berbagai kesenian tradisional yang hampir punah di Bogor, seperti seni Blantek, yang kini kembali hidup di tengah masyarakat. Ia juga menggagas Pamong Budaya Award, malam penghargaan bagi para seniman yang telah mendedikasikan hidup mereka lebih dari dua dekade untuk menjaga warisan leluhur—dari juru pantun, pelestari Pencak Silat Cimande, hingga penggiat Angklung Gubrag.
Tak berhenti di situ, ia bahkan pernah menghadirkan kereta pusaka Paksi Naga Liman dari Cirebon ke Bogor, menyatukan kasepuhan-kasepuhan dari berbagai penjuru dalam sebuah perhelatan budaya yang sakral dan penuh makna.
Selama empat periode berturut-turut, Ki Bambang juga menjadi penggagas Ruwat Tujuh Gunung, ritual adat yang memadukan doa, seni, dan pelestarian lingkungan lewat penanaman pohon—simbol harmoni antara manusia dan alam.
Dalam setiap langkahnya, ia senantiasa menggaungkan misi Pamong Budaya: menggali, mengembangkan, dan melestarikan seni, situs budaya, dan nilai-nilai luhur peninggalan nenek moyang.
Melalui sawala budaya—diskusi rutin yang ia gelar—ia mengajak generasi muda untuk terus berdialog dengan tradisi. Di usia ke-7 Pamong Budaya Bogor, bertepatan dengan Hari Jadi Bogor, ia merancang impian mulia: sunatan massal, pertunjukan Sisingaan, Ormat Tarawangsa, hingga Festival Bakar Seribu Menyan sebuah simbol pengharuman budaya di tengah zaman yang mulai kehilangan arah.
Semoga segala doa dan cita-cita luhur itu dikabulkan. Semoga setiap langkah kecilnya yang penuh makna mendapat ridho dari Allah SWT.
Karena dari sosok Ki Bambang Sumantri, kita tak hanya melihat seorang budayawan. Kita melihat jiwa besar, semangat yang tak pernah padam, dan cinta yang tulus pada tanah kelahirannya. Ia adalah pelita yang terus menyala meski dunia berubah, meski badai datang silih berganti. (red)






