SUKABUMI, Lingkar Jabar – Menanggapi keluhan sejumlah ibu wali murid TK/RA terkait menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kampung Cijengkol, RT 03/RW 05, Desa Cijengkol, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, pihak pengelola menyampaikan permohonan maaf sekaligus komitmen melakukan evaluasi terhadap penyajian makanan bagi anak usia dini.
Melalui Agus, salah seorang pengurus SPPG, pihaknya mengapresiasi langkah para ibu wali murid yang telah menyampaikan aspirasi dan masukan secara langsung. Menurutnya, kritik tersebut merupakan bentuk kepedulian orang tua terhadap kesehatan dan kebutuhan gizi anak-anak.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada para ibu wali murid yang telah menyampaikan aspirasinya secara langsung. Kami tidak menganggap itu sebagai penggerudukan, melainkan bentuk kepedulian tulus orang tua kepada anak-anaknya. Hal itu sangat kami hargai,” ungkap Agus dalam keterangannya.
Agus juga secara terbuka menyampaikan permohonan maaf atas penyajian menu terong balado yang sebelumnya menjadi sorotan karena menggunakan bumbu cabai merah.
Ia mengakui bahwa terdapat kekurangan dalam penyesuaian bumbu makanan untuk anak usia dini, khususnya penerima manfaat pada jenjang PAUD yang rata-rata masih berusia 3 hingga 4 tahun.
Menurutnya, terong merupakan bahan pangan yang memiliki kandungan serat dan antioksidan. Namun, dari sisi pengolahan, penggunaan bumbu bercita rasa pedas dinilai kurang tepat untuk kelompok usia tersebut.
“Kami memohon maaf atas menu terong balado untuk anak usia PAUD. Kami akui ada kekurangan dalam penyesuaian bumbu. Terongnya sendiri merupakan bahan pangan yang baik, tetapi cara penyajiannya dengan bumbu pedas memang tidak tepat untuk anak usia 3–4 tahun,” jelasnya.
Agus menegaskan, pihaknya menjadikan masukan wali murid sebagai bahan evaluasi penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan MBG ke depan.
Ia menyampaikan bahwa pengelolaan dapur SPPG melibatkan relawan dan tenaga ahli gizi yang setiap hari berupaya menyediakan makanan sehat bagi anak-anak. Meski demikian, pihaknya menyadari bahwa evaluasi dan perbaikan teknis di lapangan tetap diperlukan.
Sebagai bentuk tindak lanjut, Agus menyampaikan tiga komitmen perbaikan.
Pertama, menu khusus penerima manfaat PAUD/TK akan disesuaikan dengan prinsip zero pedas, memiliki tekstur lebih lembut, serta porsi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan usia anak.
Kedua, setiap penyusunan menu akan kembali dikoordinasikan dengan pihak sekolah dan ahli gizi sebelum proses pengolahan dilakukan.
Ketiga, pihak SPPG membuka ruang komunikasi dan dialog langsung dengan wali murid agar aspirasi maupun masukan dapat disampaikan secara terbuka sehingga tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari.
“Kami ingin menjadikan kejadian ini sebagai pembelajaran. Ke depan, kami berkomitmen memperhatikan menu, tekstur, tingkat kepedasan, dan porsi makanan agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan anak-anak,” tegasnya.
Agus juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mendukung keberlangsungan program MBG yang merupakan salah satu program pemerintah untuk meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak.
Menurutnya, dukungan masyarakat harus berjalan beriringan dengan keterbukaan terhadap kritik dan kesediaan melakukan perbaikan.
“Program MBG ini merupakan program yang baik untuk anak-anak kita. Kami mohon doa dan dukungan semua pihak. Mari kita jaga dan perbaiki bersama. Jangan sampai semangat baik ini ternodai oleh kekurangan teknis yang sebenarnya bisa menjadi bahan evaluasi bagi kami,” pungkasnya.
Respons tersebut diharapkan menjadi langkah awal peningkatan kualitas pelayanan SPPG Caringin, sekaligus memastikan setiap makanan yang disalurkan tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga aman, layak, dan sesuai dengan karakteristik usia penerima manfaat.






