Berita  

Ngabumi VIII: Merawat Jejak Leluhur, Menanamkan Budaya kepada Generasi Muda

 

BANJAR, LingkarJabar – Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi, masyarakat Kampung Siluman, Kelurahan Purwaharja, Kota Banjar, terus berupaya menjaga identitas budayanya melalui Ritus Budaya Ngabumi. Memasuki pelaksanaan yang ke-8 tahun 2026, tradisi tersebut tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi ruang pewarisan nilai-nilai leluhur kepada generasi muda.

Ngabumi yang digelar di Situs Pulomajeti menghadirkan berbagai rangkaian tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Mulai dari nyangkreb, mipit, kirab budaya, hingga prosesi ngelarung benih ikan, seluruhnya mengandung pesan tentang rasa syukur, kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam serta leluhur.

Ketua Panitia Ngabumi VIII, Rusrudin, mengatakan bahwa tema Ngabumi tahun ini mengangkat filosofi angka delapan yang sarat makna. Menurutnya, pelaksanaan yang telah memasuki tahun kedelapan menjadi simbol semakin terbukanya jalan bagi masyarakat untuk terus menjaga dan mengembangkan warisan budaya yang dimiliki.

“Ngabumi bukan hanya acara seremonial. Di dalamnya ada pesan-pesan leluhur yang harus terus dikenalkan kepada generasi sekarang agar tidak hilang,” ujarnya.

Ia menilai, tantangan terbesar pelestarian budaya saat ini bukan hanya menjaga keberlangsungan acara, tetapi memastikan generasi muda memahami makna di balik setiap tradisi yang dijalankan. Karena itu, keterlibatan masyarakat dari berbagai usia dalam setiap rangkaian kegiatan menjadi hal yang sangat penting.

Prosesi kirab budaya yang melibatkan warga menjadi salah satu bentuk edukasi budaya secara langsung. Melalui kegiatan tersebut, generasi muda dapat mengenal sejarah, tradisi, serta nilai-nilai yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kampung Siluman.

Selain itu, kegiatan ngelarung sekitar 2.000 ekor benih ikan juga menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam. Tradisi tersebut mengajarkan bahwa budaya tidak hanya berbicara tentang ritual, tetapi juga mengandung pesan menjaga kelestarian lingkungan sebagai sumber kehidupan.

Menurut Rusrudin, keberadaan Situs Pulomajeti sebagai lokasi pelaksanaan Ngabumi juga memiliki peran penting dalam menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah dan asal-usul daerahnya. Oleh karena itu, situs budaya tersebut harus terus dirawat dan dikenalkan kepada generasi penerus.

Melalui Ngabumi VIII, masyarakat Kampung Siluman menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan mengenang masa lalu. Budaya harus terus dihidupkan, dipraktikkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya agar tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Dengan cara itulah nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur akan tetap terjaga dan relevan di tengah perubahan zaman.(Johan Wijaya)