Sukabumi, Lingkar Jabar – Sejumlah ruas jalan kabupaten di Sukabumi dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat dampak langsung pembangunan Tol Bocimi Seksi 3. Salah satu titik yang paling terdampak adalah ruas Karangtengah–Nagrak, yang kini dipenuhi lubang, retakan, hingga permukaan jalan yang ambles.
Kondisi ini bukan sekadar mengganggu kenyamanan, tetapi telah menimbulkan risiko serius bagi keselamatan pengguna jalan. Warga setempat menyebut sudah terjadi sejumlah kecelakaan akibat jalan rusak tersebut, terutama bagi pengendara roda dua yang kesulitan menghindari kerusakan di jalur tersebut.
Dugaan kuat mengarah pada aktivitas lalu lalang truk besar pengangkut tanah proyek tol yang melintas setiap hari. Banyak kendaraan tersebut diduga membawa muatan melebihi kapasitas yang diizinkan, sehingga mempercepat kerusakan struktur jalan yang sejatinya tidak dirancang menahan beban berat secara terus-menerus.
Menanggapi hal ini, Kepala Bidang Bina Marga PU Kabupaten Sukabumi Dudu Wahyudi menyatakan bahwa pihaknya masih terus berkoordinasi dengan pengelola jalan tol. Ia menegaskan bahwa pengelola proyek telah berkomitmen melakukan pemeliharaan rutin, seperti pelapisan ulang aspal dan perbaikan beton secara berkala.
Namun, untuk perbaikan total, masyarakat diminta bersabar. “Perbaikan menyeluruh akan dilaksanakan setelah pekerjaan tol selesai,” ujar Dudu.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kerusakan jalan tersebut merupakan tanggung jawab pelaksana pembangunan tol. Hal ini, menurutnya, telah diatur dalam perjanjian resmi antara pemerintah daerah dan pihak proyek. Dalam kesepakatan itu, disebutkan bahwa seluruh ruas jalan yang terdampak akan diperbaiki secara menyeluruh setelah proyek Tol Bocimi rampung.
Meski demikian, kondisi di lapangan saat ini memunculkan pertanyaan besar: siapa yang bertanggung jawab atas keselamatan pengguna jalan selama masa pembangunan berlangsung? Warga menuntut langkah konkret dan cepat, bukan sekadar janji perbaikan di akhir proyek.
Jika tidak segera ditangani secara serius, kerusakan jalan ini bukan hanya soal infrastruktur tetapi juga soal keselamatan nyawa.






