BOGOR, LingkarJabar – Sembilan anggota DPRD Kabupaten Bogor dari Daerah Pemilihan (Dapil) III melaksanakan kegiatan Reses Masa Sidang II tahun 2025-2026 di Kecamatan Cijeruk pada Senin 17 Februari 2025.
Dari total sepuluh anggota dewan Dapil III, hanya satu anggota dari Fraksi PDI Perjuangan yang tidak menghadiri reses tersebut. Sementara itu, sembilan anggota dewan yang hadir terdiri dari Wawan Haikal Kurdi (Fraksi Golkar), Heri Setiandi (Fraksi Gerindra), Nurunnisa (Fraksi Gerindra), H. Ismail (Fraksi Golkar), Edwin Sumarga (Fraksi PKB), H. Ading Ahmad Nazir (Fraksi PKS), Fahim (Fraksi Nasdem), H. Usup (Fraksi PPP), dan Jalil (Fraksi Demokrat). Kelompok ini dikenal dengan sebutan “Tim Sembilan”.
Dalam reses tersebut, para anggota dewan menampung berbagai aspirasi masyarakat Cijeruk yang hingga kini belum terealisasi. Beberapa di antaranya meliputi pembangunan SMPN 02 Cijeruk, pembangunan Puskesmas Cijeruk, penanganan lahan, pengelolaan sampah, pengembangan UMKM, revitalisasi Pasar Cijeruk, pembangunan sarana keagamaan, serta alokasi dana bantuan keuangan desa.
Terkait pembangunan SMPN 02 Cijeruk, anggota DPRD dari Fraksi PKS, H. Ading Ahmad Nazir, menyampaikan bahwa pemerintah Kabupaten Bogor telah menyiapkan anggaran untuk pembangunan sekolah tersebut pada tahun 2025. Namun, lokasi pembangunannya masih dalam tahap pembahasan. Ia menekankan bahwa lokasi yang dipilih harus representatif dan mudah dijangkau oleh siswa tanpa membebani biaya transportasi.
“Tahun 2025, pembangunan SMPN 02 Cijeruk akan direalisasikan. Tinggal menentukan lokasi yang strategis dan mudah diakses oleh anak-anak sekolah, sebaiknya yang dilalui angkutan umum,” ujar H. Ading Ahmad Nazir.
Selain itu, terkait bantuan hibah sarana keagamaan, ia mengungkapkan bahwa alokasi anggaran dari APBD Kabupaten Bogor yang mencapai Rp11 triliun hanya menyediakan Rp5 miliar untuk bantuan sarana keagamaan. Dengan jumlah tempat ibadah yang mencapai ribuan di Kabupaten Bogor, ia mendorong pengelola yayasan, pesantren, masjid, serta majelis taklim untuk lebih proaktif dalam memanfaatkan anggaran tersebut.
“Saya kaget, di Kecamatan Cijeruk hanya ada satu penerima bantuan, sementara di Kecamatan Cigombong ada 20 bantuan sarana keagamaan. Ini jadi perhatian bersama agar ormas Islam seperti MUI dan MWC NU bisa membangun komunikasi yang lebih baik dengan pemerintah daerah,” tambahnya.
Sementara itu, Edwin Sumarga dari Fraksi PKB menyoroti kondisi Pasar Cijeruk yang masih sepi. Ia mendorong masyarakat untuk ikut meramaikan pasar dengan menggelar berbagai kegiatan seperti bazar, pasar murah, atau festival produk lokal.
“Cijeruk punya potensi besar. Ada Duren Warso, toge goreng, dan laksa yang sudah terkenal hingga luar kota. Ini bisa dimanfaatkan sebagai daya tarik dengan mengadakan festival durian, laksa, atau toge goreng,” ujarnya.
Menurutnya, potensi ekonomi masyarakat Kecamatan Cijeruk cukup besar. Tantangannya adalah bagaimana para pelaku usaha bisa memasarkan produknya dengan lebih baik untuk menarik lebih banyak konsumen.
“Saya melihat masyarakat Cijeruk punya peluang besar untuk maju. Tinggal bagaimana kita mengoptimalkan produk lokal agar semakin dikenal dan diminati,” tandas politisi PKB itu. (red)






