PANGANDARAN, LingkarJabar – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Republik Indonesia terus mendorong peningkatan produktivitas pertanian melalui program Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT). Salah satu wilayah penerapannya berada di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, tepatnya di Desa Cibanten, Kecamatan Cijulang.
Program ini tidak hanya difokuskan untuk mendukung sektor pertanian, khususnya di daerah terpencil, tetapi juga berfungsi memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat. Dengan adanya akses air yang memadai, para petani diharapkan bisa bercocok tanam secara normal, terutama padi, dan meningkatkan intensitas panen.
Andra, staf Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy, menjelaskan bahwa program JIAT sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto terkait ketahanan pangan nasional. “Melalui jaringan irigasi air tanah, lahan sawah di daerah terpencil dapat teraliri air dengan baik sehingga panen bisa berlangsung hingga tiga kali dalam setahun. Satu titik jaringan bahkan mampu mengairi hingga 20 hektare areal persawahan,” ujarnya.
Dampak positif program ini juga dirasakan langsung oleh warga. Sahidin, petani asal Desa Cibanten, mengungkapkan bahwa sebelum adanya program JIAT, petani hanya bisa panen sekali dalam setahun. Namun kini, mereka optimistis mampu mencapai panen hingga tiga kali setahun sebagaimana diharapkan pemerintah.
Selain mengairi sawah, keberadaan jaringan irigasi air tanah ini juga terbukti bermanfaat untuk masyarakat umum. Air yang dihasilkan dinilai layak digunakan sebagai sumber air bersih, sehingga membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari warga di wilayah tersebut.
Dengan penerapan berkelanjutan, program JIAT diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memberikan solusi akses air bersih bagi masyarakat di berbagai daerah terpencil di Indonesia.






