Berita  

Sentuhan Kepedulian di Banjar Kolot: Dari Rumah Reyot ke Harapan Baru

BANJAR, LingkarJabar  – Di sudut Lingkungan Banjar Kolot RT 002 RW 013, Kelurahan Banjar, Kecamatan Banjar, kamis (26/2/2026), aktivitas tak biasa terlihat sejak pagi. Bukan sekadar kerja bakti, melainkan awal perubahan bagi sebuah keluarga sederhana.

Rumah milik Wardi, pencari barang bekas keliling, yang sebelumnya berdinding lapuk dan beratap rapuh, mulai dibongkar. Di lokasi itu, jajaran Polres Banjar turun langsung melakukan perbaikan melalui program Rumah Tidak Layak Huni (RUTILAHU).

Kapolres Banjar, AKBP Didi Dewantoro, memimpin langsung kegiatan tersebut. Sejumlah personel bersama warga bergotong royong melepas atap lama dan membersihkan material rusak, sebelum memulai perbaikan struktur rumah.

Bagi Wardi, bantuan ini bukan sekadar pembangunan fisik. “Rumah ini tempat kami berteduh setiap hari. Sekarang rasanya seperti punya harapan baru,” ujarnya.

Kapolres menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program yang digagas Rudi Setiawan selaku Kapolda Jawa Barat. Program tersebut menyasar warga kurang mampu agar memiliki hunian yang lebih aman dan layak.

“Polri tidak hanya hadir dalam konteks penegakan hukum, tetapi juga dalam kegiatan sosial yang menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat,” ujar Kapolres.

Selain renovasi rumah, bantuan sosial berupa 10 paket sembako turut disalurkan kepada keluarga penerima manfaat.

Kegiatan ini turut melibatkan BAZNAS Kota Banjar dan aparat kelurahan setempat. Kolaborasi tersebut memastikan proses berjalan sesuai sasaran dan kebutuhan penerima.

Warga sekitar pun tampak antusias membantu. Beberapa di antaranya mengaku senang melihat adanya perhatian terhadap lingkungan mereka.

“Ini bukan hanya soal rumah Pak Wardi, tapi soal kepedulian,” kata salah satu tetangga.

Program RUTILAHU 2026 disebut selaras dengan kebijakan institusi Polri dalam memperkuat peran sebagai pelindung dan pelayan masyarakat. Namun di lapangan, yang terlihat bukan hanya agenda institusi, melainkan interaksi langsung antara aparat dan warga.

Di tengah suara palu dan tawa gotong royong, perubahan mulai tampak. Rumah yang sebelumnya rapuh perlahan berdiri lebih kokoh. Bagi keluarga Wardi, itu berarti rasa aman. Bagi warga sekitar, itu menghadirkan contoh bahwa kepedulian bisa diwujudkan dalam tindakan nyata.

Kegiatan berlangsung tertib dan lancar hingga sore hari. Renovasi akan dilanjutkan hingga rumah benar-benar layak ditempati. (Joe)