CAMIS, LingkarJabar – Puluhan warga Dusun Suka Asih, Desa Padaringan, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis, mendatangi kantor pemerintahan desa pada Rabu 30 April 2025 untuk menuntut perbaikan jalan penghubung yang rusak parah dan sudah puluhan tahun tak tersentuh pembangunan.
Jalan yang menghubungkan Dusun Suka Asih, Desa Padaringan, dengan Dusun Pabuaran, Desa Karyamukti, Kota Banjar, mengalami kerusakan selama hampir 16 tahun. Kerusakan ini sangat disesalkan warga karena jalan tersebut merupakan jalur alternatif penting menuju Kota Banjar dan terletak persis di depan Kantor Desa Padaringan.
“Kami sudah cukup sabar. Jalan ini rusak dari tahun ke tahun, tapi tak kunjung diperbaiki. Padahal ini jalan utama warga dan anak-anak sekolah juga sering melintasinya,” ujar Kustina, warga setempat.
Warga mengaku telah berulang kali menyampaikan aspirasi dalam forum musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang), namun belum juga ada tindakan nyata dari pemerintah desa.
Kekecewaan warga memuncak karena aspirasi mereka selama ini terkesan diabaikan oleh kepala desa. “Kami selama ini diam, bukan berarti tidak peduli. Tapi karena terus diabaikan, kami merasa harus bertindak,” kata Zaki, salah satu perwakilan warga.
Zaki juga menilai pembangunan selama ini tidak menyentuh kebutuhan utama masyarakat. “Jalan ini sangat vital. Selain jalur alternatif, juga digunakan pedagang dari Desa Puloerang untuk aktivitas ke pasar,” tambahnya.
Senada dengan Zaki, warga lainnya, Muklis, mengatakan bahwa mereka lelah dengan janji-janji yang tidak pernah terealisasi. “Musrenbang tiap tahun kami ikuti, tapi jalan tetap rusak. Tahun ini janji lagi, tahun depan katanya dibangun. Tapi kapan realisasinya?” ujar Muklis.
Kepala Desa Padaringan, Sartono, menyampaikan bahwa kedatangan warga sejatinya menuntut transparansi anggaran, termasuk Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD). Ia mengklaim seluruh anggaran sudah diumumkan secara terbuka.
Soal tuntutan perbaikan jalan, Sartono menyebut pandemi COVID-19 sebagai penghambat. “Dana desa ada aturannya. Saat pandemi kemarin, kami fokus ke jalan usaha tani. Tapi jalan ini masuk dalam RPJMDes periode kedua dan ditargetkan selesai pada 2025,” ujarnya.
Sartono menambahkan, pembangunan jalan akan tetap menjadi prioritas, namun keterbatasan dana membuat prosesnya lambat jika hanya mengandalkan anggaran desa tanpa dukungan dari kabupaten atau provinsi.
Setelah menggelar audiensi, warga akhirnya membubarkan diri dengan rasa kecewa karena belum ada kejelasan kapan perbaikan jalan akan terealisasi. Kini, warga hanya bisa berharap agar janji perbaikan jalan tidak kembali menjadi harapan kosong. (Joe)






